Dear....
ajari aku bernafas tanpa perlu mencampur oksigen dengan namamu, beri sedikit space dan ajari aku untuk berjalan sendirikan
harusnya amnesia itu menyerangku saat ini, saat pelukanmu membuatku tak berdaya, saat rindu membuatku tersiksa
mungkin kamu menikmati kegelisahaanku, mencarimu saat kau tak ada, dan berdiam saat kau ada
aku ingin sesuatu yang pasti
sekarang aku seperti kehilangan arah, tak mendengar kabarmu, tak berkomukasi denganmu seakan aku buta melihat matahari yang begitu terik, berharap panas ini bisa singgah sejenak di halaman rumahmu dan mengabarkan bagaimana tersesatnya aku
jika saja waktu seperti layangan mungkin bisa kugunti bagian mana yang tak kusukai, jika saja waktu adalah kenangan mungkin yang tersisa hanya kerinduan.
tugas kuliah sama urusan cinta itu jauh banget, sebelum tugas menghampiri cinta lebih dulu datang, sampai tugas berikut dan berikutnya datang dan terselesaikan, si cinta masih saja begini begini, buat hati semakin gersang dan bingung, ga ada yg salah dengan cinta, mungkin hanya aku yang tak mengerti bagaimana seharusnya,
apa yang kau tunggu dari kelabilanku mencintaimu, mungkin aku butuh pembuktian? atau aku masih belum yakin kepadamu? atau apa?? ini pun membuat aku semakin bertanya
cinta selamanya akan begini, terlihat indah jika diperlakukan dan diciptakan indah, tapi akan sangat menyakitkan bila cinta kita abaikan atau tak tahu harus diapakan.
atau kita biarkan saja cinta ini hadir, biarkan dia yang menemukan muaranya, tanpa harus kita yang mengendalikan atau mencipta?
andai rasa ini bisa aku ajak berdialog dan hati ini bisa kulepas mungkin aku akan meninggalkannya sejenak, atau perasaan ini kuganti dengan memory yang baru agar tahu, apa aku kehilanganmu atau aku sama sekali tak membutuhkanmu
terlalu naif, rasanya hati ini butuh kamu tapi ada saja perasaan takut dan akh... semua seperti mimpi, andai saja kau tahu kalau aku mencintaimu, dan rasa itu masih sama
Dengan semua kegetiran dan kepahitan dari madu rayuan sang pecinta
kita masih satu atmosfir, masih seperti biasa, tapi status itu merubah cara kita bertegur sapa.
langit disini sedang hujan, dan langit disana mungkin baru mendung, aku tak menikmati keputusan ini, tolong mengerti, keadaan ini jangan peluk saya terlalu lama, banyak airmata dan pelukan yang tersisa setelah ini
mungkin aku juga akan bertanya dan menghakimi diriku sendiri, menjadi egois mencari cela disetiap salah yang tak juga kutemukan pada diriku sendiri, membiarkanmu pergi dan meninggalkanku itu tanda tanya besar buatmu
kemarin, aku menitipkan hatiku kepadamu, bukan kau tak sanggup menjaganya, tapi terlalu jahat membiarkan dan menularkan atmosfir dan kotoran kepadamu, cukup aku saja yang merasakannya, melihat orang yg tercinta ikut merasakannya rasanya tak adil, kuputuskan untuk meninggalkanmu, bukan karena rasa ini berkurang atau memudar, tapi terlalu menghormati dan gak mau kamu masuk kedalam garis yang begitu membuatku menderita
bukankah banyak cara yang mampu kita lakukan, mendokanmu dari jauh, sekedar bertanya kabarmu, atau menemanimu belajar, atau mengamatimu dari kejauhan
Hatiku sudah menjerit. Mulutku komat-kamit mengeluh dan marah. Mataku
belum juga menangkap area kering disekitar wajah.
tak habis pikir keputusan yang kuambil seperti menampar diriku sendiri, tak aku perdulikan lagi rasa, cinta, ketenangan darinya, aku hanya memikirkan egoku, apa yang ada dipikiranku saat ini, andai hati, rasa dan semua yang ada di diri bisa dengan sendirinya meluapkan kata mungkin aku tak merasa sendiri, ada mereka yang bisa menjelaskan kepadamu tanpa mulut atau tangan menjadi beku